Ternyata Kita Hanya Belum Bersyukur



makan bersama



Waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB. Di Pesantren Al-Anwar, waktu makan siang telah tiba. Setelah menjalani berbagai aktivitas sejak pagi, para santri mulai bergegas menuju tempat makan.

Ahmad dan Kafy termasuk di antara mereka yang sudah tidak sabar ingin menyantap makan siang. Sejujurnya, keduanya sudah sangat lapar. Sejak pagi mereka belum sempat sarapan, sehingga perut terasa benar-benar kosong.

Tatkala hendak menuju tempat makan, keduanya terlebih dahulu mengganti pakaian di kamar masing-masing. Setelah selesai, mereka pun berjalan bersama menuju tempat makan.

Namun, baru saja sampai, langkah Ahmad tiba-tiba melambat. Ia melihat menu makanan yang telah disediakan, lalu menghela napas panjang.

“Duh… lagi laper-lapernya, malah lauknya nggak ajib lagi,” keluh Ahmad sambil melihat hidangan di hadapannya.

Kafy yang berdiri di sampingnya ikut memperhatikan menu tersebut.

“Hmm… iya sih. Tapi sumpah, ana laper banget. Masa iya nggak makan lagi?” jawab Kafy.

Ahmad kemudian berpikir sejenak.

“Udah, ana beli fried chicken dulu aja, dah.”

Belum sempat Ahmad beranjak, Samy yang sejak tadi mendengar percakapan mereka tiba-tiba menyela.

“Jangan dulu, Mad. Kenapa tiba-tiba mau beli ayam? Ini makanan juga enak, kok.”

Ahmad menggeleng.

“Aduh, nggak masuk di lidah ana, Sam.”

Samy tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Yaelah, ente kalau sedikit-sedikit beli ayam, lama-lama boros, Mad. Masa setiap lauk yang kurang sesuai selera langsung beli yang lain?”

Ahmad hanya diam.

Sebenarnya, makanan yang disediakan pesantren hari itu bukanlah makanan yang buruk. Bahkan jika dilihat dengan baik, makanan tersebut cukup nikmat dan layak untuk disantap. Hanya saja, selera Ahmad dan Kafy sedang tidak cocok dengan lauk yang tersedia.

Karena merasa kurang berselera, keduanya mulai berpikir untuk membeli makanan lain.

Namun, Samy mencoba mengingatkan mereka. Bukan karena ia tidak ingin Ahmad membeli makanan, tetapi karena ia ingin mereka belajar menghargai apa yang telah tersedia.

“Gini aja, Mad,” kata Samy. “Sekarang ente ambil dulu nasi sama lauknya. Nggak usah dipaksain makan sekarang kalau memang belum selera. Simpan aja. Nanti kalau sore masih lapar, coba makan lagi. Dah ikutin dulu saran ana.”

Ahmad berpikir sebentar, kemudian mengangguk.

“Oke, oke. Ana ambil dulu nih. Buat nanti sore.”

Akhirnya Ahmad dan Kafy mengambil makanan yang telah disediakan pesantren. Setelah itu, mereka melanjutkan aktivitas seperti biasa. Siang itu mereka belajar, kemudian melaksanakan salat Asar berjamaah dan mengikuti kajian sore.

Waktu terus berjalan dan tanpa terasa kajian sore pun selesai. Perut Ahmad dan Kafy yang sejak siang belum terisi akhirnya mulai kembali berbunyi.

Keduanya saling pandang.

“Fi…” kata Ahmad.

“Apa?”

“Laper nggak?”

Kafy langsung tertawa kecil.

“Laper banget. Dari tadi juga ana tahan.”

Mereka pun kembali ke tempat makanan. Ahmad mengambil nasi dan lauk yang sebelumnya ia simpan.

Anehnya, kali ini makanan yang tadi siang terlihat tidak menggugah selera justru terasa begitu nikmat.

Ahmad mulai menyantapnya.

“Hmm… ternyata enak juga.”

Kafy yang ikut makan pun mengangguk.

“Iya. Padahal tadi kita sampai mau beli ayam.”

Mereka berdua akhirnya menghabiskan makanan tersebut dengan lahap. Tidak ada lagi keluhan tentang lauk yang kurang sesuai selera. Tidak ada lagi keinginan untuk membeli makanan lain.

Yang ada hanyalah rasa kenyang dan syukur.

Ahmad kemudian terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana beberapa jam sebelumnya dirinya hampir saja menolak makanan yang telah disediakan.

Ternyata bukan makanannya yang berubah. Selera dan keadaannyalah yang berubah.

Saat perut kenyang, makanan sederhana mungkin terasa biasa saja. Tetapi ketika perut benar-benar lapar, makanan yang sama bisa terasa begitu nikmat.

Dari kejadian sederhana itu, Ahmad mulai memahami satu hal: terkadang kita terlalu mudah menganggap remeh apa yang sudah berada di hadapan kita hanya karena tidak sesuai dengan keinginan.

Padahal, belum tentu sesuatu yang kita inginkan akan selalu lebih baik daripada apa yang sudah Allah berikan.

Begitu pula dalam kehidupan.

Kadang kita tidak menyukai keadaan yang sedang kita jalani. Kita ingin menggantinya dengan sesuatu yang baru. Kita merasa kehidupan orang lain lebih menyenangkan, rezeki mereka lebih banyak, pekerjaan mereka lebih baik, atau jalan hidup mereka lebih mudah.

Lalu kita mulai melupakan satu hal penting:

Bisa jadi, sesuatu yang sedang kita keluhkan hari ini adalah nikmat yang kelak akan kita rindukan.

Maka, sebelum terburu-buru mengganti sesuatu yang tidak kita sukai, cobalah untuk bersabar dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Bukan berarti kita tidak boleh mencari sesuatu yang lebih baik. Namun, jangan sampai keinginan untuk mendapatkan yang baru membuat kita lupa mensyukuri apa yang sudah ada.

Sebab terkadang kita baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah kita kehilangan kesempatan untuk menikmatinya.

Ahmad dan Kafy akhirnya belajar bahwa rasa syukur tidak selalu muncul karena mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan. Terkadang, syukur justru lahir ketika kita mampu menerima sesuatu yang sederhana dengan hati yang lapang.

Sebab nikmat bukan hanya tentang apa yang kita inginkan, tetapi juga tentang apa yang masih Allah izinkan untuk kita miliki.

Jadi, jika hari ini ada sesuatu yang tidak sesuai dengan selera kita, jangan buru-buru mencampakkannya.

Cobalah bersabar.

Cobalah menerima.

Cobalah mensyukuri.

Karena boleh jadi, sesuatu yang hari ini kita anggap biasa saja, suatu saat nanti justru menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.



“Kadang bukan nikmatnya yang sedikit, tetapi rasa syukur kita yang terlalu sempit.”

_KunMa’i


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.