Waktu yang sama, Hasil yang berbeda
![]() |
| memanfaatkan waktu dengan belajar |
Pernahkah
kita membaca kisah seseorang yang begitu hebat dalam hidupnya, lalu tanpa sadar
terlintas dalam pikiran kita,
"Kok
bisa, ya?"
"Hebat sekali..."
"Bagaimana dia bisa sampai sejauh itu?"
Kita sering
mengagumi pencapaian seseorang, tetapi terkadang lupa bahwa di balik semua itu,
ia memiliki sesuatu yang sama persis dengan yang kita miliki: waktu.
Ia memiliki
24 jam dalam sehari, sebagaimana kita.
Ia memiliki 7 hari dalam seminggu, sebagaimana kita.
Ia memiliki 12 bulan dalam setahun, sebagaimana kita.
Siang dan malam yang ia jalani pun sama panjangnya dengan siang dan malam yang
kita lewati.
Lalu, jika
waktu yang diberikan sama, mengapa hasil kehidupan setiap orang bisa begitu
berbeda?
Ada orang
yang dalam sehari mampu memberikan manfaat kepada ribuan manusia. Ada pula yang
untuk mengatur dirinya sendiri masih sering kesulitan.
Ada yang
usianya masih muda, tetapi sudah menghasilkan banyak karya, memiliki ilmu yang
luas, ibadah yang terjaga, dan pergaulan yang memberi manfaat kepada banyak
orang. Sementara yang lain, dengan usia dan waktu yang hampir sama, masih
merasa berjalan di tempat.
Ada yang
mampu melewati satu tahun dengan berbagai pencapaian dan karya. Namun ada pula
yang melewati dua belas bulan tanpa menyadari bahwa begitu banyak kesempatan
telah berlalu begitu saja.
Lantas, apa
yang membuat perbedaannya?
Bukan karena
mereka mendapatkan waktu yang lebih banyak. Melainkan karena mereka
memperlakukan waktu dengan cara yang berbeda.
Waktu adalah
sesuatu yang unik. Ada yang mengatakan, waktu adalah uang. Ada yang
mengibaratkannya sebagai pedang. Ada pula yang mengatakan bahwa waktu lebih
berharga daripada emas.
Namun pada
akhirnya, semuanya kembali kepada siapa yang memegang dan mengendalikannya.
Uang di
tangan orang yang bijak dapat menjadi jalan kebaikan. Pedang di tangan orang
yang tepat dapat menjadi alat untuk melindungi. Begitu pula waktu—di tangan
seseorang yang mampu mengelolanya, waktu dapat berubah menjadi ilmu, amal,
karya, pengalaman, dan manfaat yang terus mengalir.
Sebaliknya,
waktu yang disia-siakan tidak akan pernah kembali.
Coba kita
renungkan, mengapa Allah SWT begitu banyak bersumpah dengan waktu di dalam
Al-Qur'an?
Setidaknya
terdapat banyak ayat yang Allah gunakan untuk bersumpah dengan berbagai bagian
dan keadaan waktu. Di antaranya:
1. QS.
Al-Lail (92) Ayat 1: وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىۙ — "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)."
2. QS.
Asy-Syams (91) Ayat 4: وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىهَاۖ — "Demi malam apabila menutupinya."
3. QS.
Ad-Dhuha (93) Ayat 2: وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ — "Demi malam apabila telah sunyi."
4. QS.
Al-Fajr (89) Ayat 4: وَالَّيْلِ اِذَا يَسْرِۚ — "Demi malam apabila berlalu."
5. QS.
Al-Inshiqaq (84) Ayat 17: وَالَّيْلِ وَمَا وَسَقَۙ — "Demi malam dan apa yang diselubunginya."
6. QS.
At-Takwir (81) Ayat 17: وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ — "Demi malam apabila telah larut."
7. QS.
Al-Muddatthir (74) Ayat 33: وَالَّيْلِ اِذْ اَدْبَرَۙ — "Demi malam ketika telah berlalu."
8. QS.
Asy-Syams (91) Ayat 3: وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰىهَاۖ — "Demi siang apabila menampakkannya."
9. QS.
Al-Lail (92) Ayat 2: وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ — "Demi siang apabila terang benderang."
10. QS.
Al-Muddatthir (74) Ayat 34: وَالصُّبْحِ اِذَآ اَسْفَرَۙ — "Demi subuh (siang) apabila mulai terang."
11. QS.
Al-Fajr (89) Ayat 1: وَالْفَجْرِۙ —
"Demi fajar."
12. QS.
At-Takwir (81) Ayat 18: وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ — "Demi subuh apabila fajar mulai menyingsing."
13. QS.
Ad-Dhuha (93) Ayat 1: وَالضُّحٰىۙ —
"Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah)."
14. QS.
Al-'Ashr (103) Ayat 1: وَالْعَصْرِۙ —
"Demi masa (waktu ashar)."
Semua itu
seakan mengajak kita untuk berhenti sejenak dan menyadari bahwa waktu bukan
sesuatu yang sederhana.
Ia tidak
bisa ditabung.
Tidak bisa diputar kembali.
Tidak bisa dibeli meskipun seseorang memiliki harta sebanyak apa pun.
Ketika satu
menit berlalu, ia benar-benar telah menjadi bagian dari masa lalu.
Karena itu,
bukan waktu yang harus kita cari lebih banyak. Sebab setiap manusia telah
mendapatkan jatah yang sama. Yang perlu kita lakukan adalah belajar menggunakan
waktu yang telah Allah titipkan dengan sebaik-baiknya.
Guru Mulia
Al-Habib Umar bin Hafidz pernah menyampaikan:
مَنْ اهْتَمَّ
بِالْوَقْتِ سَلِمَ مِنَ الْمَقْتِ
"Barang
siapa yang memperhatikan waktunya, maka ia akan selamat dari kebencian."
Pesan ini
mengingatkan kita bahwa orang yang menghargai waktu tidak akan mudah membiarkan
hidupnya berlalu tanpa arah.
Ketika waktu
yang Allah berikan digunakan untuk belajar, beribadah, berkarya, membantu orang
lain, memperbaiki diri, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat, maka
sesungguhnya kita sedang mengubah waktu menjadi sesuatu yang bernilai.
Sebaliknya,
ketika waktu terus dihabiskan untuk hal-hal yang tidak membawa manfaat, suatu
hari kita mungkin akan menoleh ke belakang dan bertanya,
"Ke
mana saja waktuku selama ini?"
Yang
menyedihkan, saat pertanyaan itu muncul, waktu sudah tidak dapat dikembalikan.
Maka jangan
menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sesuatu.
Manfaatkanlah
waktu selagi ia masih berada di tangan kita.
Sebab hari
ini tidak akan terulang dengan cara yang sama.
Satu jam yang telah berlalu tidak akan kembali.
Satu menit yang telah pergi tidak bisa ditebus dengan penyesalan.
Pada
akhirnya, mungkin bukan tentang berapa banyak waktu yang kita miliki, tetapi
tentang apa yang kita lakukan dengan waktu yang Allah percayakan kepada kita.
Karena kita
semua memiliki waktu yang sama.
Yang
membedakan adalah bagaimana kita mengisinya.
Dan ketika
kelak waktu kita telah habis, semoga yang tersisa bukan hanya kenangan tentang
hari-hari yang telah berlalu, tetapi juga amal, ilmu, karya, dan manfaat yang
pernah kita tinggalkan di dalamnya.
Ingat ! Manfaatkanlah
waktu yang diberi, karena 1 menit yang berlalu tidak mungkin kembali, justru
yang ada hanyalah penyesalan tanpa arti dan henti.
_KunMa’i


Tidak ada komentar